Ibu, apa kamu kenal siapa sebenarnya dirimu? Bagaimana kamu marah? Bagaimana kamu sedih? apa betul kamu mampu merasakan perasaan sedihmu? Atau jangan-jangan kamu belum mengenal diri sendiri? Padahal self-awareness dapat tumbuh dimulai dari kita mengenal diri sendiri.
Materi Kelas Bunda Sayang Batch 6 Institut Ibu Profesional
Self-awareness menjadi materi pertama pada kelas bunda sayang batch 6 institut ibu profesional. Sebelum ibu mampu terlibat dalam proses pengasuhan, kemampuan ibu mendeteksi kebutuhannya dan perasaaannya menjadi procedural knowledge atau pengetahuan dasar sebelum ibu belajar ilmu pengasuhan anak lebih dalam.
Ketika ibu telah paham kebutuhan dasarnya, barulah disitu ibu mampu secara sadar hadir dalam mendampingi buah hati secara utuh.
Baca selengkapnya : Seberapa Penting Self-Awareness Pada Ibu?
Bagaimana Ibu Mengenal Diri Sendiri?
Menurut narasumber kelas bunda sayang batch 6 institut ibu profesional, mba Nugraheni Ariati M.PSI, seorang psikolog yang berasal dari IP Regional Balikpapan Raya, kita mengenal diri sendiri dimulai dari belajar mendeteksi, mengukur serta menerima perasaan yang sedang dialami dengan menuliskan seluruh perasaan tersebut.
Perasaan yang diukur diantaranya perasaan dicintai, dipahami, dihargai, perasaan bernilai, percaya akan kompetensi diri, perasaan aman, dan terakhir perasaan diabaikan. Kita diminta untuk menuliskan secara detail apakah kita sedang merasakan perasaan-perasaan tersebut atau tidak.
Jika iya, tuliskan alasannya dan jika tidak, tuliskan juga alasannya. Serta mengukur seberapa kuat perasaan itu muncul pada diri kita.
Mengapa Kita Diminta Mengukur Perasaan Diri Sendiri?
Bisa jadi saat ini kita sendiri belum tahu apa yang kita rasakan, karena seringnya mengabaikan perasaan sendiri sehingga keterampilan merasakan berbagai jenis emosi dan perasaan menjadi hilang secara perlahan.
Keterampilan mengenal emosi seharusnya dikenalkan sejak usia dini. Namun jika orang tua kita tidak terbiasa menerima setiap perasaan dan emosi mereka, kita pun belum tentu memiliki keterampilan tersebut.
Padahal dari kemampuan mendeteksi dan mengukur perasaan diri sendiri, kita akan mampu mengukur dan mengendalikan respon yang akan kita berikan pada situasi dan kondisi tertentu.
Maka, ketika kita diminta menuliskan setiap perasaan yang dialami, secara perlahan kita meluapkan seluruh emosi yang mungkin selama ini terpendam, disitulah awal mula kita menumbuhkan kemampuan mendeteksi perasaan yang muncul pada diri sendiri.
Karena sebelum kita mampu mengenal siapa diri kita, apa kekurangan kita, bagaimana mengendalikan respon yang kita berikan, kita harus memiliki kemampuan dasar mengukur seberapa besar perasaan itu hadir dan menjadi bagian dari membangun emotional intelegence pada diri sendiri.
Memulai Berlatih Mengenal Diri Sendiri
Tahap pertama : Mengenali dan mengukur kekuatan perasaan yang muncul
1. Tuliskan perasaan yang kamu rasakan sejujur-jujurnya,
Saat berlatih mengenal diri sendiri, mba Nugraheni Ariati M.PSI meminta kita menuliskan SEMUA secara detail apa yang kita rasakan saat ini apakah kita merasa dicintai, dipahami, dihargai, perasaan bernilai, percaya akan kompetensi diri, perasaan aman, dan terakhir perasaan diabaikan.
Ketika menulis perasaan kita, SEMUA RASA ADALAH VALID. Waah sampai dicapslock ya, semua boleh dituliskan dan valid untuk dirasakan dan layak untuk diterima. Saat inilah kita seperti mengeluarkan seluruh kegetiran dalam diri yang bisa jadi sudah terpendam begitu lama dan dalam.
Jika ada rasa sakit yang terpendam, rasa bahagia yang dirasakan atau rasa rindu yang begitu dalam semuanya layak untuk dirasakan dan diluapkan karena kita manusia biasa yang layak untuk merasakan semua.
Karena ketika kita berani menuliskan semuanya tanda bahwa kita sedang berusaha memulai untuk jujur pada diri sendiri, Jujur pada apa yang dirasakan dan tidak perlu ada yang disembunyikan bahkan oleh diri sendiri.
Dengan menuliskan semuanya, Kita telah berani ambil bagian dari proses dimulainya penerimaan perasaan diri.
Proses pemulihan luka yang mungkin telah dipendam sejak lama. Disini kamu bebas menuliskan semua yang sedang atau pernah kamu rasakan.
2. Ingat-ingat kembali saat kapan perasaanmu muncul?
Mba Heni meminta kita mengingat ketika perasaan itu muncul, kapan itu terjadi, bagaimana kondisinya secara detail. Dari sini mungkin kita akan mengingat rasa sedih yang sudah lama namun bisa jadi kita belum betul-betul menyelesaikan rasa tersebut dengan baik.
Oleh karena itu, mengingat waktu terjadinya perasaan tersebut dan menuliskannya membantu kita mengurai setiap memori dan rasa yang muncul.
3. Ukur seberapa kuat perasaan itu muncul?
Ketika proses membangun kesadaran diri, kita menjadi observer diri sendiri. Saat proses merasakan perasaan diri kita pun diminta untuk mampu mengukur seberapa kuat perasaan itu muncul.
Maksudnya gimana? kalau kesel, keselnya kesel banget apa kesel aja atau kuesel buanget? disini kita harus mampu menilai. Ketika kita mampu menilai dan menuliskan seberapa kuat maka disini proses pengakuan perasaan dan penerimaan diri atas rasa yang hadir menjadi dasar terbangunnya keterampilan kognitif atas pengelolaan emosi.
Hasil penelitian : "Menulis mampu membantu membangun kesadaran diri dan menyembuhkan"
Menurut Pennebaker JW. Opening up: the healing power of expressing emotions. New York: Guilford Press; 1997. [Google Scholar] dijelaskan bahwa James W Pennebaker Ph.D telah mendokumentasikan penelitian panjang selama bertahun-tahun tentang efek menyembuhkan dari kegiatan menulis.
Pennebaker mengatakan apabila kita mampu menghubungkan perasaan kita dengan kejadian tertentu maka kita mampu memiliki kendali penuh terhadap perasaan kita atas kejadian yang mempengaruhi hidup kita.
Meskipun masih belum diketahui mengapa menulis bisa mempengaruhi kesehatan tetapi berdasarkan beberapa data penelitian, latihan menulis dapat meningkatkan fungsi imunitas dan kemampuan untuk mengatasi rasa sakit dari kejadian tertentu.
Tahap Kedua : Kenali Respon yang Diberikan Atas Perasaan yang Muncul
Tuliskan Respon apa adanya yang kita berikan saat perasaan itu muncul
Setelah kita mampu mengenali perasaan dan mengukur seberapa kuat perasaan yang muncul kemudian ingat kembali dan uraikan respon apa yang kita berikan saat perasaan itu muncul.
Menuliskan respon apa adanya dapat membantu tubuh secara objektif melihat kondisi diri dari luar diri. Maksudnya disini apakah kita memberikan respon secara reaktif atau tidak. Saat marah akan berteriak, atau saat sedih lebih sering diam atau langsung menangis.
Hal ini bertujuan untuk melihat diri sendiri apakah kita telah memiliki kendali atas respon dari tubuh serta menyadari secara utuh respon yang timbul.
Respon ini menjadi tolak ukur apakah kita sudah mengenal diri sendiri dan memiliki kendali penuh atas respon yang seharusnya dimunculkan. Ketika kita dengan sadar telah mampu menuliskan kejadian yang dialami maka proses pengelolaan diri dimulai.
Contohnya : Ketika aku merasa diabaikan aku merasa marah dan aku mengeluarkan kata-kata kasar kepada orang yang aku anggap mengabaikanku walaupun sedang berada ditempat umum.
Tahap Ketiga : Membangun Proses Pengendalian diri dengan Menentukan Respon yang Diharapkan.
Tuliskan Respon yang sepatutnya muncul ketika suatu perasaan hadir
Setelah kita mengenali dan mengukur setiap perasaan yang muncul, menguraikan respon-respon terhadap setiap perasaan yang hadir. Selanjutnya menuliskan respon-respon yang diharapkan dapat kita hadirkan ketika perasaan - perasaan itu muncul.
Terkadang respon yang kita berikan adalah sesuatu yang tidak bisa kendalikan. Menangis sejadi-jadinya atau berteriak bahkan melempar benda-benda di sekitar. Tentu respon ini merupakan respon yang tidak diharapkan terjadi lagi di kemudian hari.
Tentu yang diharapkan adalah respon yang terkendali. Respon yang hadir atas kesadaran penuh pertimbangan dan kebijaksanaan.
Contohnya : ketika aku merasa kesal aku akan masuk kamar dan membanting pintu dengan kencang. Respon yang sepatutnya muncul adalah seharusnya aku tidak perlu membanting pintu karena akan membuat anak-anakku takut dan tidak mau bermain dengan ibunya lalu anak-anak menjadi lebih cranky dan trauma terhadap ibunya.
Jika suatu hari aku merasa kesal, aku akan menjauhkan diri sementara dari anak-anak selama 3 menit ke dapur, duduk lalu ambil air minum. Jika aku masih kesal aku pergi ke kamar mandi untuk ambil air wudhu lalu melakukan solat sunnah mutlak agar aku bisa jauh lebih tenang dan kembali fokus melakukan aktivitas selanjutnya.
Ayo Berlatih Mengenal Diri Sendiri
1. Apakah kamu merasa dicintai?
Jawablah pertanyaan dengan jujur dan terbuka terhadap diri sendiri, karena ketika kita berani menuliskannya maka kita berani mengurai setiap perasaan yang hadir, maka perlahan meluapkan rasa yang mungkin selama ini disembunyikan.
Ingat kembali kejadian yang membuatmu merasa dicintai, misalnya "aku merasa dicintai karena aku diciptakan Allah dengan segala keadaan yang sempurna yang Allah berikan sebagai bentuk cintaNya padaku.
Ingat juga waktu kamu merasa dicintai, misalnya "aku merasa dicintai oleh Allah saat aku tidak tahu bahwa ban motor aku kempes dan aku tidak bisa mengendalikan motor dengan baik tapi aku masih tetap diselamatkan saat sampai di rumah"
Seberapa kuat perasaan ini muncul dalam dirimu, misalnya "aku merasa perasaan cinta itu begitu kuat hadir dalam diriku, merasa terharu atas berlimpahnya cinta yang Allah limpahkan kepada ku atas setiap kejadian hidup yang telah dilewati"
Bagaimana respon kamu ketika kamu merasa dicintai?, ketika aku merasa dicintai, aku akan melakukan apapun terhadap orang yang mencintaiku.
Atau apakah kamu merasa tidak dicintai?
Kejadian yang membuatmu merasa tidak dicintai, misalnya "Aku merasa tidak dicintai oleh seseorang dalam hidupku yaitu suamiku. Karena suamiku tidak sepenuhnya hadir dalam proses aku mendampingi anak-anakku. aku mencoba memahami setiap pekerjaannya namun karena ia tidak pernah menanyakan kabarku aku merasa tidak dicintai."
Kapan waktu kamu merasa tidak dicintai, misalnya "Ketika aku baru melahirkan dan anak bayiku menangis saat malam karena haus, suamiku malah dengan nyenyak tertidur bahkan ia merasa kesal dengan suara menangis bayinya. Ia tidak memperhatikan aku dan bayinya sungguh aku merasa sedih"
Seberapa kuat perasaan ini muncul pada dirimu, misalnya "Perasaan sedih karena merasa tidak dicintai ini begitu kuat hingga jika mengingat kejadian itu membuatku merasa sangat sedih yang mendalam hingga aku menangis dan dadaku merasa sesak. Sepertinya selama ini aku mengabaikan perasaanku dan aku berusaha kuat namun ternyata aku begitu sedih mengingat kejadian itu".
Bagaimana respon kamu ketika kamu merasa tidak dicintai?, misalnya "aku menangis dan tidak mau bertemu dengan siapapun sehingga aku merasa sendirian."
Apa seharusnya respon yang patut diberikan ketika kamu merasa tidak dicintai? misalnya "aku tetap menangis namun aku harus mampu menuliskan daftar nikmat yang Allah telah berikan sehingga aku tidak lupa bahwa tidak dicintai manusia tidak membuatku runtuh karena ada Allah yang mencintaiku"
2. Apakah kamu merasa dipahami?
Ingat kembali kejadian yang membuatmu merasa dipahami, misalnya "aku merasa dipahami oleh suamiku ketika aku sedang sibuk memasak suamiku dengan inisiatifnya membantu anak-anak untuk bersiap pergi ke sekolah dan aku merasa senang karena aku dibantu dan dipahami atas kondisi yang sedang ku alami".
Ingat kembali kapan waktu kamu merasa dipahami, misalnya "aku merasa sangat senang dan dipahami ketika aku bisa dibantu melakukan pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya tanpa diminta atau disuruh hehe".
Seberapa kuat perasaan ini muncul dalam dirimu, misalnya "perasaan ini tidak terlalu kuat muncul dalam diriku karena kejadian-kejadian ini jarang terjadi dalam hidupku" .
Bagaimana respon kamu ketika kamu merasa dipahami?, misalnya "aku mengucapkan terimakasih dan tenang karena maksud yang diinginkan dapat dilaksanakan dengan baik."
Atau apakah kamu merasa tidak dipahami?
Kejadian yang membuat merasa tidak dipahami, misalnya "aku merasa tidak dipahami ketika aku sedang memasak tetapi suamiku tidak mau membantu membangunkan anak-anak ketika pagi dan memilih untuk tidur kembali. Suamiku tidak aware terhadap tugasnya sebagai ayah untuk mengasuh anak-anak"
Kapan waktu kamu merasa tidak dipahami, misalnya, "ketika aku sakit tidak ada orang yang peduli dengan kondisiku dan mereka hanya mengatakan bagaimana dengan anak-anak dan suami jika aku sakit, siapa yang mengurus mereka. Tanpa ada yang merawat saat aku sakit"
Seberapa kuat perasaan ini muncul dalam dirimu, misalnya "perasaan tidak dipahami tidak begitu kuat hadir dalam diriku karena aku memahami setiap kondisi individu berbeda-beda. Sehingga ketika aku tidak dipahami, aku tidak masalah karena aku bisa menyelesaikan semua dengan baik."
Bagaimana respon kamu ketika kamu merasa tidak dipahami?, misalnya "aku mulai meninggikan nada suaraku karena apa yang aku sampaikan tidak dilaksanakan dengan benar"
Apa seharusnya respon yang patut diberikan ketika kamu merasa tidak dipahami?, misalnya "seharusnya aku tidak perlu meninggikan nada suaraku, aku seharusnya mencari tahu sumber apa yang masih belum dipahami dan mengulangi dengan pelan-pelan."
3. Apakah kamu merasa dihargai?
Ingat kembali kejadian yang membuatmu merasa dihargai, misalnya "aku merasa sangat dihargai saat aku dipercaya untuk mengemban amanah di komunitas ibu profesional."
Ingat kembali kapan waktu kamu merasa dihargai, misalnya "aku merasa sangat dihargai ketika dalam meeting komunitas, pendapatku menjadi bahan pertimbangan penyelesaian masalah dalam komunitas"
Seberapa kuat perasaan ini muncul dalam dirimu, misalnya "perasaan dihargai sangat kuat hadir karena aku merasa sebagai seorang manusia aku diperlakukan dengan baik oleh orang-orang di sekitar ku."
Bagaimana respon kamu ketika kamu merasa dihargai?, misalnya "aku diam tidak menjawab orang yang telah menghargaiku"
Apa seharusnya respon yang patut diberikan ketika kamu merasa dihargai?, misalnya "aku seharusnya tersenyum dan mengucapkan terimakasih karena telah dihargai dan dihormati".
Atau apakah kamu merasa tidak dihargai?
Kejadian yang membuatmu merasa tidak dihargai, misalnya "aku merasa tidak dihargai sebagai seorang ibu ketika ada ibu lain yang senang mengomentari tumbuh kembang anakku"
Kapan waktu aku merasa tidak dihargai, misanya "saat ibuku mengajakku ke dokter anak karena menurut ibuku, anakku terlalu kurus. Namun ketika berhadapan dengan dokter, anakku termasuk anak yang sehat dan ceria dan indeks pertumbuhannya masih masuk kurva normal"
Seberapa kuat perasaan ini muncul dalam dirimu, misalnya "perasaan ini muncul kuat ketika berhadapan dengan orang-orang yang menganggap remeh diri ini, namun tidak dengan orang lain."
Bagaimana respon kamu ketika merasa tidak dihargai?, misalnya "aku langsung diam meninggalkan orang yang tidak menghargai aku."
Apa seharusnya respon yang patut diberikan ketika kamu merasa tidak dihargai?, misalnya "tenang dan menyampaikan dengan baik hal yang tidak disukai agar lawan bicara kita memahami apa yang kita rasakan"
4. Apakah kamu merasa bernilai?
Ingat kembali kejadian yang membuatmu merasa bernilai, misalnya "aku merasa bernilai ketika aku menjalankan peran sebagai ibu, istri dan guru secara seimbang".
Ingat kembali kapan kamu merasa bernilai, misalnya "aku merasa bernilai ketika aku bisa menyelesaikan semua tugas dengan baik secara tepat waktu".
Seberapa kuat perasaan ini muncul pada dirimu, misalnya "perasaan ini begitu kuat muncul karena aku merasa sangat bernilai karena aku mampu mencintai setiap apa yang aku kerjakan"
Bagaimana respon kamu ketika kamu merasa bernilai?, misalnya "bangga dan memposting pencapaian diri di media sosial"
Apa seharusnya respon yang patut diberikan ketika kamu merasa bernilai?, misalnya "berbagi tips dan trik yang dilakukan di media sosial agar bisa memberikan manfaat kepada orang lain".
Atau apakah kamu merasa tidak bernilai?
Kejadian yang membuatmu merasa tidak bernilai, misalnya "aku merasa tidak bernilai ketika masakanku tidak dimakan oleh keluargaku"
Kapan kamu merasa tidak bernilai, misalnya "aku merasa tidak bernilai ketika aku dimarahi oleh suami dan ibuku secara bersamaan untuk hal yang seharusnya tidak perlu disampaikan dengan marah-marah"
Seberapa kuat perasaan ini muncul pada dirimu, misalnya "saat ini perasaan tidak bernilai ku begitu kuat hingga aku merasa tidak ingin melakukan apapun karena aku merasa setiap yang aku lakukan salah di mata siapapun."
Bagaimana respon kamu ketika kamu merasa tidak bernilai?, misalnya "aku tidak mau bertemu dengan orang, aku jadi sering scroll media sosial dan menunda semua pekerjaan."
Apa seharusnya respon yang patut diberikan ketika kamu merasa tidak bernilai?, misalnya "cari orang yang bisa dipercaya untuk menyampaikan keluh kesah, orang yang akan memberikan apresiasi kepada ku sehingga aku kembali merasa bernilai."
5. Apakah kamu merasa aman?
Ingat kembali kejadian yang membuatmu merasa aman. misalnya "aku merasa aman di rumah karena aku memiliki suami yang bisa dipercaya dan menafkahi hidupku dan anak-anak dengan baik".
Ingat kembali kapan kamu merasa aman. misalnya "setiap hari aku merasa aman karena aku tinggal di lingkungan orang-orang baik."
Seberapa kuat perasaan ini muncul pada dirimu, misalnya "perasaan aman ini begitu kuat karena aku tidak merasa khawatir dengan kehidupan ku dan aku dapat beraktivitas dengan semangat sebagai seorang istri dan ibu".
Bagamana respon kamu ketika kamu merasa aman?, misalnya "aku tidak takut melakukan hal yang aku sukai, bercerita semua hal yang aku alami kepada orang yang memberikanku rasa aman".
Atau apakah kamu merasa tidak aman?
Kejadian yang membuatmu merasa tidak aman, misalnya "Ketika naik bis kota aku pernah dipepet orang tidak dikenal dan saat aku sampai rumah ternyata tasku sobek dan handphoneku telah raib"
Kapan kamu merasa tidak aman, misalnya "Saat naik angkutan umum, aku menjadi merasa tidak aman, dan memilih untuk duduk dekat dengan kondektur".
Seberapa kuat perasaan ini muncul pada dirimu, misalnya "perasaan ini muncul begitu kuat setiap saat hingga aku merasa takut melakukan aktivitas sehari-hari".
Bagaimana respon kamu ketika kamu merasa tidak aman?, misalnya "aku akan lebih memilih diam dan kabur karena aku merasa takut"
Apa seharusnya respon yang patut diberikan ketika kamu merasa tidak aman?, misalnya "disesuaikan dengan orang yang temui, jika orang terdekat yang membuatku tidak aman, maka aku akan menyampaikan perasaanku yang merasa tidak aman dalam kondisi tertentu agar orang terdekatky mengetahui apa yang aku rasakan"
6. Apakah kamu merasa diabaikan?
Ingat kembali kejadian yang membuatmu merasa diabaikan, misalnya "aku merasa asing dan diabaikan ketika aku meminta bantuan dari suamiku untuk menitip anak-anak ketika aku mencuci tetapi ia tidak menghiraukan malah asik dengan handphonenya."
Ingat kembali kapan kamu merasa diabaikan, misalnya "aku merasa diabaikan saat suami sudah ada di rumah ketika aku ingin ngobrol ia malah asyik dengan handphonenya sendiri"
Seberapa kuat perasaan ini muncul pada dirimu, misalnya "perasaan ini muncul sangat kuat dan berulang terjadi setiap hari"
Bagaimana respon kamu ketika kamu merasa diabaikan?, misalnya "bingung dan tetap berusaha mengajak berbicara orang yang mengabaikan ku"
Apa seharusnya respon yang patut diberikan ketika merasa diabaikan?, misalnya "tegas menanyakan kepada yang mengabaikan, apa yang sedang terjadi untuk mencari akar masalah agar dapat diselesaikan bersama-sama".
Atau Apakah kamu merasa tidak diabaikan?
Ingat kembali kejadian yang membuatmu merasa tidak diabaikan, misalnya "ketika aku sendirian di kamar, suami ku menghampiriku dan menanyakan keadaan ku".
Ingat kembali kapan kamu merasa tidak diabaikan, misalnya " aku merasa tidak diabaikan ketika aku meminta tolong untuk menemani anak-anak belajar, suamiku dengan sigap menemani anak-anak".
Seberapa kuat perasaan ini muncul pada dirimu, misalnya " aku merasa tidak diabaikan ketika aku sakit saja namun sehari-hari aku merasa tidak dipedulikan".
Bagaimana respon kamu ketika kamu merasa tidak diabaikan?, misalnya "fokus dan dapat mengerjakan sesuatu dengan baik"
Mengenali diri sendiri dan self-awareness ibu menjadi satu kesatuan kekuatan seorang ibu sebelum ibu mampu mendampingi buah hati secara utuh. Kendali penuh ibu terhadap diri sendiri adalah dasar pengasuhan berada di jalur yang benar atau tidak. Ibu yang belum selesai dengan dirinya tidak akan mampu secara sadar mendampingi orang lain termasuk anak dan suami.
Mendampingi anak dengan hadir utuh jiwa dan raga dengan kendali penuh butuh proses, terus berproses ibu. Akan selalu ada jalan bagi jiwa yang ingin terus bertumbuh menjadi lebih baik, semangat ibu!





Komentar
Posting Komentar