Ide proyek belajar berdagang dengan bermain peran muncul karena kegundahanku moms. Moms pernahgak sih ngerasain anak kita di kondisi mintaaaa aja, terus kalau gak dikasih langsung ngambek.
Aku dan paksu lumayan kewalahan dengan tingkah anak-anak di rumah yang suka meminta barang yang sama seperti punya temannya. Kita tidak mampu mengatur lingkungan, ketika tetangga di sekitar dengan mudah membelikan barang untuk anak-anaknya.
Namun prinsip keluarga tetap harus dijalankan. Walaupun masih anak-anak, kami tidak mentolerir pembelian barang secara impulsif.
Kami berprinsip, membelikan barang untuk anak harus memiliki tujuan tertentu contohnya sebagai apresiasi usaha anak pada proses belajar. Selama tidak ada sesuatu untuk diapresiasi atau dirayakan maka membelikan mainan atau barang tidak dapat dilakukan setiap saat.
Mengapa Anak Harus Belajar Berdagang?
"Kita buat proyek bareng anak-anak yuk", kata paksu. Dengar kata itu dari paksu berasa dapet bingkisan di siang bolong. Deg-degan tapi excited. Mengapa itu bisa terjadi karena paksu bukan tipe ayah yang ikut campur dalam urusan pendidikan anak. Selama anak-anak happy dan bertanggung jawab, semua boleh. Namun ia bercerita soal keresahannya dengan keinginan-keinginan anak yang mulai tidak terkontrol.
Sampai kita sadar bahwa anak dengan mudahnya meminta benda yang harganya cukup pricy bagi kami. Oleh karena itu, agar anak mampu paham cara menghargai nilai uang untuk sebuah barang, saya dan paksu merencanakan proyek belajar berdagang dengan bermain peran bersama anak-anak.
Persiapan
1. Menentukan Produk Yang Akan Dijual
Paksu kasih ide bagaimana jika kita mengajak anak-anak berdagang barang yang anak-anak mampu membuatnya sendiri. Muncullah ide membuat jus. Mengapa memilih membuat jus, karena sehat dan cara buatnya mudah. Ide ini muncul dari hasil diskusi dengan anak-anak. Awalnya ide nya mau menjual gambar anak-anak. Karena kita berencana berjualan di pinggir jalan, tentu ide anak yang satu ini bisa disimpan untuk bermain peran di rumah.
Kemudian muncul ide membuat puding. Ide yang bagus sebenarnya, makanan yang biasa dibuat sendiri oleh anak-anak. Inara bercerita kalau makanan kesukaannya itu puding dan dia bisa membuat puding maka puding bisa dijadikan produk untuk di jual. Anak-anak bercerita bagaimana biasa mereka makan puding. Dipotong dari tempat puding lalu diletakkan dalam mangkok lalu di makan. Mereka ingin menservis pelanggan dengan cara yang sama. Jika menggunakan cara itu tentu kehigienisannya akan dipertanyakan orang lain.
Diskusi ide masih terus berlanjut karena anak-anak tetap ingin menjual puding. Akhirnya untuk mengakomodir semua ide maka dipilih untuk menjual jus jambu dengan tambahan jeli di dalamnya. Minuman ini dipilih karena bahan yang mudah di dapat, mudah membuatnya serta memiliki nilai tambah untuk toping jeli.
2. Mencari Tahu Cara Pembuatan Produk
Sebelum memulai proyek berdagang tentu segala sesuatunya harus dipersiapkan terlebih dahulu. Proses persiapan di mulai dari persiapan pembuatan produk jus jambu dengan jeli. Anak-anak di minta untuk mencari tahu kegunaan jambu, serta mengapa orang harus meminum jus jambu. Hal ini menjadi strong why pemilihan produk yang akan di jual.
Kemudian anak di minta untuk mencari tahu cara membuat jus jambu yang benar. Dengan bantuan orang tua, anak dapat mencari informasi tentang pembuatan jus jambu dari gambar atau video di mesin pencari.
3. Membuat Logo Produk
Selain cara pembuatan, anak dilibatkan dalam pembuatan logo untuk produk yang dijual. Saat bersama-sama mendesain, anak-anak muncul beberapa ide, mengenai warna yang digunakan, gambar apa yang ingin dimasukkan, tulisan yang ada dalam logo, font tulisan apa yang harus dipakai dan bentuk logo yang digunakan.
Inara memilih warna kuning dengan bentuk lingkaran sebagai logo untuk merk produk dagangan. Beberapa elemen seperti gelas, sedotan lalu topi chef, ia pilih sebagai ornamen yang mencerminkan ciri dari merk yang kita buat.
Menyenangkan ketika bisa bekerja dan berdiskusi bersama anak-anak. Pendapat yang muncul lalu saling memberikan feedback satu sama lain menjadi kegiatan yang seru, teamworknya sangat terasa. Suasana diskusi dengan anak menjadi flashback ketika diskusi atau rapat saat kerja, penuh energi dan drama kolosalnya tapi setelah menghasilkan keputusan bersama, ada kepuasam tersendiri di dalamnya.
Pelaksanaan
1. Pembuatan Produk Yang Akan Dijual
Bersama anak-anak kami ke supermarket membeli seluruh bahan yang diperlukan untuk membuat produk. Ketika ke supermarket anak-anak excited muter-muter supermarket buat cari sendiri bahan untuk produk. Semangat sekali anak-anak menemukan bahan di rak yang besar seperti menemukan harta karun. Lalu saat mengolah menjadi jus, jambunya harus di kupas dan di potong kecil-kecil. Anak-anak terlibat dibagian memotong jambu menjadi lebih kecil dan tidak lupa quality control yaitu cek rasa.
Ini yang paling seru, saat cek rasa anak-anak malah ingin meminum jusnya banyak-banyak, katanya enak. Karena untuk di jual maka dibatasi icip-icip produknya.
2. Pembuatan Poster Untuk Menarik Pembeli
Supaya produk yang dijual dapat dengan mudah di lirik pembeli, anak-anak diminta membuat poster. Poster dibuat sendiri oleh anak-anak, dengan tulisan tangan serta gambar mereka sendiri. Ketika membuat poster anak-anak senang sekali berkreasi, menggambar dan mewarnai sesuai dengan produk yang akan di jual.
Dengan kreativitas anak, dalam 1 kertas terdapat tulisan serta keterangan isi produk. Jus jambu merah dengan jeli dan madu, anak-anak gambarkan sendiri bagian-bagian dari ingredients produk. Ada gambar jambu merah, madu dan jeli, serta kata "ayo beli jus jambu merah+jeli dan madu" sebagai kalimat ajakan untuk menarik pembeli.
3. Proyek Belajar Berdagang Dengan Bermain Peran Dimulai
Sebelum mulai berdagang, kami menimbang berbagai lokasi berdagang yang ramai dikunjungi banyak orang. Disekitar rumah kami, ada dua tempat olahraga yang dikunjungi banyak orang setiap hari minggu. Stadion Pakansari dan kawasan Jungleland sentul. karena akses yang lebih mudah dan kepadatan yang lebih tinggi, kami memilih stadion pakansari sebagai tempat anak belajar berdagang.
Ketika sampai di lokasi kami memilih tempat yang ada tempat parkir mobil dan barang-barang tidak perlu banyak yang diturunkan. Hal ini dilakukan agar anak-anak pun tetap nyaman ketika sedang belajar berdagang.
Satu persatu meja dan kursi diturunkan, untuk meletakkan produk dagangan. Anak-anak yang mengatur sendiri posisi produk serta membuat nyaman diri ketika berdagang.
4. Keseruan Promosi Dagangan
Tahu gak moms, ini part yang paling aku tunggu-tunggu. Apakah anak aku malu, takut atau malah cranky karena tidak mau berdagang?. Ternyata anak-anak yang awalnya malu, asing dengan lingkungannya, dilihat banyak orang, tidak butuh waktu berjam-jam anak-anak mulai beradaptasi dengan lingkungan berdagang.
Proses belajar terjadi di sini, saat anak-anak melihat pedagang lain mempromosikan jualannya juga, lalu para pembeli datang dan membeli barang dagangannya, di situ proses transaksi jual-beli terjadi. Kemudian anak-anak mulai mempraktekkan cara berdagang, sambil dicontohkan cara berpromosi, anak-anak mulai memberanikan diri menjajakan barang dagangan kepada setiap orang yang lewat.
"Ayo beli jus jambu, ayo beli jus jambu", melihat anak-anak memegang poster lalu mempromosikan dagangannya, lucu lho. Jadi ingat waktu kita kecil umur 7 tahun masih fokus main tanah tetapi ternyata anak umur 7 tahun sudah bisa diajak berbisnis bersama. Anak-anak bersemangat sekali ketika mengajak orang-orang yang berseliweran di sekitar untuk membeli produknya.
5. Akhirnya pembeli pertama datang
Setelah mempromosikan beberapa lama ada ibu-ibu yang berhenti untuk membeli jus jambu jeli buatan kami. Melihat ada pembeli yang datang, anak-anak sangat excited. Akhirnya setelah berpromosi sekian lama ada juga orang yang melirik dan berhenti untuk membeli jus jambunya.
Dari sini anak-anak belajar bahwa berdagang itu bukan hal yang mudah. Terkadang mungkin ada orang yang ingin membeli tetapi karena bukan kebutuhan untuk saat ini maka belum tentu dagangan yang kita jual itu dibeli. Anak-anak pun melihat pedagang lain yang berjualan namun belum ada satupun pembeli yang datang.
Oleh karena itu pun mereka belajar bahwa pembeli hadir Bukan hanya karena produk kitanya yang bagus tetapi juga karena ada ketentuan Allah disana. Karena Allah menggerakkan hati para pembeli untuk membeli dagangan kita.
Refleksi
1. Perasaan anak setelah berjualan
Kami membawa 9 botol jus jambu yang habis setelah kurang lebih 3 jam berdagang. Waktu berdagang dimulai dari jam 7.30 pagi hingga 10.30. Setelah barang dagangan habis, lalu kami berkemas bersama anak-anak membereskan meja dan kursi serta poster yang digunakan.
Setelah itu di dalam mobil kami menanyakan perasaan anak setelah berdagang. Senang atau tidak, lelah atau tidak dan berniat berdagang lagi atau tidak. Lalu jawaban anak-anak adalah senang dan lelah. Namun mereka ingin berjualan lagi dengan produk yang sama.
2. Anak menceritakan kembali kejadian seru ketika berdagang
Saya menanyakan, ada tidak yang mengecewakan dari proyek belajar berdagang?, dan jawaban anak-anak adalah tidak ada yang mengecewakan. Anak-anak merasa memiliki pengalaman berharga saat bisa bekerja bersama orang tuanya. Anak-anak dengan semangat, bergantian menceritakan keseruan dan suka duka yang mereka alami bersama selama berdagang.
Anak-anak bercerita bagaimana tadi ada pembeli yang sebenarnya sudah lewat namun kembali berputar hanya untuk membeli dagangannya. Anak-anak bercerita ketika ada pembeli bapak tukang ojek yang haus dan ingin membeli dua botol, lalu kita beri potongan harga. Anak-anak bercerita ketika ada ibu pembeli yang menggunakan uang palsu.
Disitu ada pembelajaran lagi, ketika kita sudah berbuat baik namun ternyata ada balasan yang kurang baik. Bisa jadi kita diminta Allah untuk lebih banyak bersedekah. Kami mendiskusikan pengalaman tidak menyenangkan dengan memahamkan bahwa kita harus belajar untuk tangguh, dan tidak mudah menyerah dan juga berdoa agar kita selalu dalam lindungan Allah. Supaya ke depannya tidak ada lagi pengalaman yang tidak menyenangkan.
Kesimpulan
Proyek belajar berdagang dengan bermain peran merupakan salah satu metode pembelajaran yang mampu menumbuhkan cara pandang baru pada anak dalam menilai sebuah barang. Karena untuk mendapatkan rejeki, setiap pedagang harus bersusah payah mempersiapkan barang dagangan lalu menjajakkan dagangannya kepada pembeli. Bisa jadi dagangan yang kita yakini enak dan segar belum tentu mampu menarik pembeli dengan mudah. Ada kerja keras disana. Ada lelah disana yang pada akhirnya menghasilkan kebahagiaan ketika dagangan itu ada yang beli dan habis terjual.
Sehingga ketika anak-anak meminta suatu barang, mulai menimbang kembali apakah itu suatu kebutuhan atau keinginan. Dan apakah uang yang dimiliki sudah cukup sesuai kebutuhan. Tentu sebagai orang tua, kita ingin yang terbaik untuk anak, namun apakah memberikan segala keinginan anak adalah hal yang baik bagi anak, belum tentu.
Selamat bertumbuh orang tua.





Komentar
Posting Komentar