Mati itu datangnya tiba-tiba tapi mati dengan khusnul khotimah tidak datang tiba-tiba, Siapkan dari sekarang yuk!


Siapa disini yang udah siap buat mati? iya mati. Buat siap nikah, kita bisa belajar dengan ikut kelas pranikah, buat siap masak kita bisa ikut kelas masak, lah buat siap mati? emang ada kelas buat mati khusnul khotimah? 

Karena mati pasti datang dengan tiba-tiba tapi mati dengan khusnul khotimah itu gak datang dengan tiba-tiba. Berikut adalah proses persiapan yang aku lewati sebelum aku menginginkan mati dengan khusnul khotimah.

Mulai dari reflection journal



Ibu rumah tangga itu hari-harinya diisi dengan kegiatan yang sama. Jadwal harian udah fix dan penuh dari pagi sampai malam sebelum tidur, pokoknya pasti padat dan menguras jiwa dan raga. 

Tapi hari-hari itu berubah ketika mengenal journaling. Journaling adalah kegiatan menuliskan kegiatan dan kejadian setiap hari beserta respon yang kita berikan lalu merefleksikan setiap respon dari kita dan menuliskan rencana perbaikan di esok hari dan disertai do'a.

Setelah konsisten menulis jurnal dan membaca kembali setiap refleksi, ternyata walaupun sepertinya waktu 24 jam kuraang untuk melakukan semua pekerjaan, tidak ada satupun agenda fix harian yang berhubungan dengan Allah.

Gak ada jadwal fix membaca alqur'an, gak ada jadwal belajar ngaji, gak ada jadwal mengikuti kajian, gak ada jadwal solat sunnah harian, apalagi jadwal solat tahajud sama puasa sunnah, udah lah BYE!.

Lah terus kalau semenit kemudian mati terus ditanya sama malaikat munkar nakir, mau jawab apa? masa mau jawab gong yoo apalagi cha eun woo? engga dong ya kan.

Menyadari dosa masih segunung 

Setelah merefleksikan diri, ya ampuun ternyata dosa ini tuh udah sebesar gunung bantar gebang ya, gede bangeett. Awal menyadari dosa malah ketika sudah menjadi ibu. Pernah dong ibu keceplosan marah yang hebat sama anak? Nah setelah marah, anak kita tuh masih tetap sayang sama kita tapi berdampak besar dengan personality anak kita di masa depan. 

Anak yang tadinya ceria sama kita jadi ketakutan karena takut ibunya akan marah hebat hanya karena kesalahan kecil. Anak jadi tidak fokus belajar karena jadi takut belajar sama ibunya. Setelah itu aku minta maaf sama anak karena telah membuat mereka ketakutan dan menyakiti perasaan mereka. 

Supaya kita tidak kembali marah pada anak, ibu harus mampu menuliskan dan menyadari dosa-dosa yang sudah kita perbuat dan niat bersungguh-sungguh bertaubat.

Bertaubat

Ketika sudah menyadari begitu banyak dosa, mulai dari mana kalau kita mulai bertaubat? 

1. Menuliskan dosa-dosa besar dan kecil yang pernah dilakukan secara detil

Ketika niat sungguh-sungguh bertaubat, aku memulai dengan menuliskan secara detil dosa-dosa yang telah diperbuat di masa lalu. Pasti buanyak banget ya kan? 

Dimulai dari ketika jadi istri, pernah menolak permintaan suami, pernah marah sama suami, pernah nada tinggi sama suami dan sebagainya. Ketika jadi anak, pernah mengabaikan telpon mama, pernah bohong sama mama, pernah menolak permintaan mama dan sebagainya. 

Ketika jadi ibu, tidak mau mendengarkan dengan fokus cerita anak, main sama anak sambil main hp, memanggil anak dengan nada tinggi, marah berlebihan pada anak dan sebagainya. Juga dosa kepada diri sendiri, memakan makanan yang tidak sehat, tidak olahraga, overthinking dan sebagainya.

2. Memohon ampunan dengan sungguh-sungguh

Setelah menuliskan semua dosa yang kita perbuat, mulai dengan solat tobat. Kita bisa lihat tata cara solat tobat setelah itu memohon ampun kepada Allah.

Yang namanya minta untuk diampuni, ya harus bersungguh-sungguh memohon kepada Allah. Karena walaupun sudah solat tobat dan mengakui setiap dosa, kita juga belum tentu akan dengan mudah diampuni oleh Allah. 

Ketika memohon untuk diampuni oleh Allah, hati pasti merasa menyesal dan sedih karena telah melakukan hal yang mendzalimi diri sendiri. Tidak ada keuntungan buat bekal di akhirat. Tunjukkan kepada Allah bahwa kita telah mengakui dosa-dosa yang telah diperbuat.

3. Tidak mengulangi dosa-dosa 

Setelah mengakui semua dosa yang telah diperbuat, tunjukkan dengan sikap untuk tidak mengulangi semua dosa. Baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Contohnya ketika menjadi ibu, yang tadinya mudah marah dengan anak, tunjukkan perubahan dengan tidak mudah marah kepada anak. Belajar mengelola emosi dengan mencari tahu hal-hal yang dapat memicu marah. Kemudian menghindari pemicu tersebut atau meredakan marah ala rasulullah. Mulai dari duduk, berbaring lalu ambil air wudhu. 

Atau ketika menjadi istri, melakukan seluruh perintah suami dengan ikhlas. Tentu peritah yang masih sesuai dengan syar'i ya. Walaupun sedang lelah, fokus untuk meraih ridho Allah. Suami juga manusia biasa, memiliki prosesnya masing-masing jadi fokus pada pahala untuk diri sendiri.

Daripada ngeluh gak jelas malah nambah dosa, fokus sama pahala dengan melakukan hal yang kalau kita lakukan Allah ridho.

Menentukkan visi untuk diri sendiri



Setelah bertaubat, tentu kita ingin menjadi manusia yang lebih baik. Nah lebih baik itu yang seperti apa ya. Selami diri kembali lalu tentukan kita ingin menjadi pribadi yang seperti apa.

Contohnya ketika menjadi anak, kita ingin menjadi anak yang soleh agar nanti di akhirat kita dapat menarik ayah dan ibu kita ke surga. Karena jika seorang anak yang soleh masuk surga, ia dapat membawa orang tuanya ke surga. Itu bisa menjadi puncak kebaktian tertinggi kita sebagai anak kepada orang tua.

Ketika menjadi istri, kita ingin menjadi istri yang soleh. Walaupun suami belum soleh, dengan kita berusaha belajar menjadi istri yang soleh, maka dengan proses mirroring atau mengaca atau mengcopy kebiasaan orang terdekat maka oranf terdekat kita pun akan berubah seperti kita. 

Dengan kita terus konsisten belajar agama, mendekatkan diri kepada Allah, insyaAllah suatu saat nanti suami kita pun akan mengikuti kita. Karena fitrahnya manusia adalah mengikuti kebaikan.

Ketika sebagai ibu, kita ingin menjadi ibu yang soleh. Agar anak-anak dapat terjaga keimananya karena selalu didoakan oleh ibu yang meminta penjagaan penuh oleh Allah. Ibu pun dapat mengajarkan dan mendidik sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Ketika ibunya soleh pun insyaAllah semoga anak-anak akan ikut menjadi anak-anak yang soleh.

Ketika menjadi diri sendiri, kita ingin menjadi pribadi yang terus belajar, positif dan produktif. Walaupun ibu rumah tangga, perkembangan ilmu, politik, teknologi dan pendidikan harus tetap update agar mampu mendampingi anak-anak mencapai cita-citanya.

Membentuk kebiasaan baru

Setelah menuliskan visi untuk diri sendiri, tunjukkan pencapaian visi melalui kegiatan sehari-hari. Ketika ingin menjadi anak, ibu dan istri yang soleh maka ada kebiasaan baru yang ditambah dalam jadwal sehari-hari.

Contohnya yang biasanya solat 5 waktu masih di akhir waktu, mulai dengan di awal waktu. Konsisten terus melakukan kebiasaan baru untuk mencapai visi tersebut.

Setelah solat tepat waktu, ditambah solat sunnah rawattib. Solat sunnah yang mengikuti solat fardu. Bisa di mulai dari menambah solat sunnah setelah dzuhur. Lalu menambah solat sunnah setelah magrib, lalu menambah solat sunnah setelah isya, lalu menambah solat sunnah sebelum subuh dan seterusnya. Semua dilakukan bertahap.

Lalu setelah menambah solat, menambah waktu baca alqur'an. Setiap muslim wajib bisa membaca qur'an dan memahami artinya. Semua dimulai dengan belajar membaca alqur'an.

Membentuk kebiasaan baru itu tidak mudah. Butuh komitmen dan konsisten dalam membangun kebiasaan tersebut dan membutuhkan waktu yang panjang.

Istiqomah

Komitmen dan konsisten menghasilkan istiqomah. Terus jaga semua kebiasaan baik yang telah terbentuk. Selalu bekerja keras mengupayakan setiap ibadah yang diperintah oleh Allah dengan hati yang khusyuk.

Keyakinan akan hari kebangkitan yang kita belum memiliki bekal disana bisa menjadi kekuatan untuk kita tetap istiqomah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.

Circle terdekat yang mendukung untuk ibadah kepada Allah



Setelah terbiasa dengan ibadah-ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah. Agar kita tetap dalam komitmen dan konsisten menjalankan ibadah kepada Allah, kita membutuhkan pengingat jika kita lalai. Circle terdekat wajib memiliki visi misi yang sama dengan kita. 

Circle terdekat menjadi faktor terkuat, apakah kita tetap istiqomah atau malah kendor. Jadi tentukan circle terdekat kita agar mampu membimbing kita ke surganya Allah.

Do'a

Khusnul khotimah adalah hak preogatif Allah. Allah melakukan apa yang Dia kehendaki. Maka memohon kepada Allah agar kita dapat mati dalam keadaan khusnul khotimah menjadi bukti bahwa kita adalah hamba Allah.

Hamba yang tidak tahu akan berakhir dengan kematian seperti apa, hamba yang merasa lemah sehingga memohon agar diwafatkan dlam keadaan khusnul khotimah dan mendapat ridho Allah.

Ingat mati itu datangnya tiba-tiba tapi mati dengan khusnul khotimah tidak datang tiba-tiba. Dengan komitmen dan konsisten mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian, semoga Allah melihat ikhtiar kita dan mengabulkan do'a kita agar kita dapat meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.

Komentar