Review buku "Hasan laki-laki, seperti Ayah"
Gara-gara video mas Daniel, saya langsung merencanakan kegiatan belajar anak selama seminggu yang berhubungan dengan tarbiyah jinsiyah atau fitrah seksualitas. Setelah kemarin membacakan buku "Nisa perempuan, seperti Ibu", yaitu buku memperkenalkan jenis kelamin perempuan, saatnya memperkenalkan jenis kelamin laki-laki melalui buku yang berjudul "Hasan laki-laki, seperti Ayah" karya Gina Sonia.
Zona 6 keterampilan literasi (Ibu Baca Buku), kelas bunda sayang batch 8 Institut ibu profesional, Kita diminta untuk memilih partner membaca dalam meningkatkan keterampilan literasi. Saya memilih Alesha 4 tahun sebagai partner membaca nyaring saya.
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi anak agar anak memiliki kosakat yang lebih luas serta terbiasa dengan huruf sebelum nanti belajar membaca dan menulis.
Membaca Nyaring Bersama Alesha 4 tahun
Buku ini berkisah tentang kegiatan hasan dari pagi hingga sore hari bersama ayah. Buku ini berjumlah 24 halaman yang berisi pojok parenting yang berisi panduan bagi orang tua ketika memperkenalkan gender pada anak.
Berbeda dengan "Nisa perempuan seperti Ibu", di buku ini digambarkan bagaimana Hasan diajak ayah untuk bangun dan solat subuh berjamaah di masjid. Kemudian buku ini juga bercerita tentang Hasan sebagai laki-laki dengan aurat yang berbeda dengan perempuan.
Buku ini juga menggambarkan bagaimana laki-laki melakukan pekerjaan kasar
seperti memperbaiki genteng yang rusak. Hal ini dikarenakan kegiatan ini
berbahaya. Laki-laki sebagai pemimpin atau qowwam bertanggung jawab melindungi
keluarga dari marabahaya.
Ketika Alesha dibacakan buku ini, ia tampak antusias mempelajari bagaimana laki-laki beraktivitas. Dari mulai auratnya, lalu tata cara solatnya. Serunya ia selalu membandingkan cerita dalam buku dengan pengalamannya mengobservasi ayahnya sendiri.
Ia membandingkan pakaian ayahnya dengan pakaian hasan, baju ayah dengan baju hasan, dan menggali setiap pengetahuan yang sebaiknya dimiliki oleh laki-laki.
Kemudian setelah itu ia bersemangat menceritakan buku yang sudah ia baca kepada ayahnya. Lalu menanyakan hal yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki tetapi tidak ayahnya lakukan.
Dalam buku ini, ada gambar dimana ayah berdiskusi bersama seluruh keluarga. Ayah bertugas untuk mengecek hafalan Al-Qur'an dari setiap anggota keluarga. Alesha merasa ayahnya tidak melakukan kegiatan ini di rumah sehingga ia meminta ayahnya untuk melakukan ini di rumah.
Kemudian setelah itu untuk membantu alesha memahami perbedaan antara laki-laki dan perempuan, Alesha melakukan aktivitas dengan mengerjakan puzzle berisi anggota tubuh anak laki-laki.
Dari aktivitas ini, dibantu dengan buku ensiklopedia kami bersama-sama membandingkan anggota tubuh yang dimiliki laki-laki dan perempuan. Dari perbedaan ciri fisik ini diharapkan anak memahami bahwa Allah swt. hanya menciptakan manusia dengan 2 jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan.
Nilai yang dapat diambil
Dengan gencarnya gerakan kaum nabi luth saat ini, kita sebagai orang tua jangan lengah. Kuatkan bonding kita dengan anak agar nilai-nilai hidup yang dibangun dalam diri anak tidak banyak pengaruh dari luar. Karena orang tua menjadi tempat ternyaman anak untuk bertumbuh yang menjadi manusia seutuhnya.
Termasuk dengan membacakan buku "Hasan laki-laki, seperti Ayah" menjadi salah satu jalan membangun kesadaran gender pada anak sejak dini. Dari buku tersebut kita dapat belajar menjadi seorang laki-laki seutuhnya menurut Agama.
Dan ketika proses belajar menjadi laki-laki seutuhnya dibutuhkan teladan bagi anak yang mengajarkan cara hidup sebagai laki-laki yang benar menurut Allah swt.
Dimulai dari cara berpakaian, tanggung jawab, aktivitas yang dilakukan dan sebagainya. Sehingga anak-anak tidak bingung, hilang arah atau mencari di luar rumah sosok yang seharusnya menjadi pembimbing dan teladan mereka.
Buku "Hasan laki-laki, seperti Ayah" bisa menjadi oase bagi kita para orang tua dalam membangun kesadaran gender pada anak. Karena setiap yang anak kita lakukan adalah tanggung jawab orang tua dan akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah swt.
Bagaimana pengalaman teman-teman mendampingi anak-anak memahami jati dirinya? komen dibawah ya!



Komentar
Posting Komentar